Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Ekonomi»Harga Tahu-Tempe Rentan Naik-Turun Karena Kedelai Tak Swasembada
    Ekonomi

    Harga Tahu-Tempe Rentan Naik-Turun Karena Kedelai Tak Swasembada

    January 4, 2021No Comments1 Min Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Harga Tahu-Tempe Rentan Naik-Turun Karena Kedelai Tak Swasembada 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    JawaPos.com – Kenaikan harga kedelai impor membuat para pelaku industri berharap pemerintah mengkaji ulang tata niaga kedelai. Terutama yang meliputi pengembangan kuantitas dan kualitas produksi kedelai lokal. Pengusaha menyebut ketergantungan yang sangat tinggi pada kedelai impor membuat pasar rentan saat harga bergolak.

    Sekretaris Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta Handoko Mulyo mengaku telah mengajukan tiga tuntutan ke pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pertama, meminta pemerintah memegang kendali tata niaga kedelai agar stabilitas harga terjaga.

    “Gejolak harga kedelai malah akan menyulitkan produsen tahu tempe dan bisa membebani pedagang,” ujarnya, Senin.

    Yang kedua, Puskopti DKI Jakarta meminta pemerintah merealisasikan program swasembada kedelai yang sudah dicanangkan sejak 2006. Dia berharap produksi tahu bisa menggunakan kedelai dalam negeri. Sementara itu, kedelai impor bisa dimanfaatkan produsen tempe.

    “Swasembada kedelai tidak berarti anti-impor. Tetapi, untuk menyeimbangkan,” tambah Handoko.

    Sementara itu, tuntutan ketiga adalah evaluasi hasil produksi kedelai lokal. Data statistik menunjukkan bahwa produksi kedelai lokal rata-rata 800.000–900.000 ton tiap tahun. Angka produksi itu jauh di bawah kebutuhan kedelai dalam negeri.

    “Produksi kedelai lokal masih jauh panggang dari api,” ujarnya.

    Berdasar data Gakoptindo, kebutuhan kedelai untuk produksi anggota berkisar 150.000–160.000 per bulan. Artinya, tiap tahun kebutuhan kedelai berkisar 1,8 juta–1,92 juta ton.


    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleMoeldoko Pastikan Calon Kapolri Penganti Idham Azis Sudah Ada
    Next Article Universitas Padjajaran Sudah Uji Klinis Lebih Dari 30 Vaksin
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru (Ilustrasi/AI)

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru, Pemerintah Bentuk PT DSI untuk Atur Ekspor

    May 21, 2026
    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat (Instagram/@menkeuri)

    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat

    May 18, 2026
    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter (Ilustrasi/AI)

    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter

    May 5, 2026
    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing (Ilustrasi/Ai)

    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing

    April 29, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.