Jelang Bulan Puasa, Harga Kebutuhan Pokok Mulai Naik

Jelang Bulan Puasa, Harga Kebutuhan Pokok Mulai Naik
Suasana di Pasar Galiran, Klungkung. (BP/Istimewa)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Harga-harga kebutuhan pokok di pasar tradisional mulai merangkak naik. Kenaikan harga sudah terjadi sejak seminggu terakhir, menjelang bulan puasa bagi umat Islam pada April nanti.

Sejumlah pedagang sembako di pasar tradisional di Klungkung pun mulai mengeluhkan ini. Mulai dari harga beras, gula dan utamanya minyak goreng yang masih mahal di pasar.

Seperti pantauan di Pasar Tradisional Galiran, Kamis (31/3), komoditi seperti beras sudah naik sejak tiga hari terakhir, yakni Rp 500-1.000 per kg dari beras C4 biasa yang umumnya Rp 10.500 saat ini harganya sudah Rp 11 ribu per kilogram. Sedangkan untuk beras premium saat ini dikisaran Rp 12 ribu dari sebelumnya Rp 11.500.

Komoditi lain, seperti gula pasir juga naik Rp 1.000 per kilogram dari harga Rp 13 ribu saat ini. Ecerannya dipasaran sudah Rp 14 ribu per kilo.

Kenaikan paling yang paling parah terjadi pada minyak goreng kemasan, harganya saat ini sudah Rp 25 ribu dan minyak goreng curah yang harganya diatur pemerintah Rp 14.000-15.500 perliter, saat ini malah kosong di pengecer. Terhadap kenaikan harga-harga ini, salah satu penjual sembako Made Kurani mengaku kenaikan terjadi sejak seminggu terakhir, utamanya gula. Bahkan, minyak curah sudah tidak ada sejak tiga hari terakhir.

Selain itu, bumbu dapur juga tercatat masih mahal. Seperti cabai saat ini diharga Rp 40 ribu untuk rawit merah dan bawang merah Rp 28 ribu per kilo. Pedagang lainnya seperti Mangku Rinden mengaku kesulitan untuk menaikkan harga kepada pelanggannya, karena harganya sudah tinggi.

Ini berimbas pada turunnya penjualan. “Sembako sekarang naik semua. Yang paling keras naik adalah minyak goreng. Dulu Rp 15 ribu per satu botol besar. Sekarang Rp 25 ribu. Yang curah tidak ada alias kosong, gula naik hingga beras juga naik,” katanya.

Para pedagang mengaku jelang bulan puasa hal ini kerap terjadi. Lantaran banyak pasokan yang dikurangi khususnya pengiriman ke Bali.

Parahnya lagi minyak curah kosong, yang mengharuskan warga harus membeli minyak kemasan dengan harga tinggi. Para pedagang berharap harga-harga segera kembali normal, agar penjualan kembali seperti semula. Sebab, dengan kenaikan harga-harga, daya beli masyarakat juga turun. (Bagiarta/balipost)

Credit: Source link

Related Articles