Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»News»Membaca Pilihan Politik Prabowo di Pilpres 2019
    News

    Membaca Pilihan Politik Prabowo di Pilpres 2019

    February 17, 2018No Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Membaca Pilihan Politik Prabowo di Pilpres 2019

    Prabowo Subianto (JN)

    Tony Rosyid

    Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

    Siapa yang tidak kenal Prabowo. Ketua Umum Gerindra dan tokoh oposisi. Tak hanya bisa mengkritik, tapi juga pandai memuji dan mengapresiasi. Termasuk kepada lawan politik, yaitu Presiden Jokowi. Beginilah citra negarawan sejati.

    Jauh dari dendam, apalagi ungkapan kata “memaki”. Tegas, tapi rendah hati. Selalu santun dan pandai menghargai. Semua pihak dihormati. Begitulah citra Prabowo membawa karakter diri. Tak ada sedikitpun kesan ambisi. Menghindari semua langkah yang mengarah kepada kepentingan pribadi.

    Hingga saat ini, Prabowo belum juga menyatakan diri. Pasang orang, atau harus maju sendiri. Semua mesti matang dikalkulasi. Begitulah semestinya jiwa seorang politisi.

    Bimbang? Tidak! Prabowo bukan tipe manusia gamang. Keputusannya selalu berdasarkan apa yang diyakini. Insting politiknya merupakan bagian dari keimanan yang ia percayai. Meski kadang mengundang banyak perbedaan persepsi.

    Membaca situasi politik akhir-akhir ini, setidaknya ada tiga pilihan alternatif Prabowo yang bisa diprediksi. Pertama, Prabowo jadi wakil Jokowi. “Kompromi politik” terjadi. Bersama PDIP dan sejumlah partai lain mengadu nasib dalam koalisi. Akhirnya, pragmatisme menjadi basis kalkulasi. Apa kata dunia? itu nomor sekian.

    Jika Prabowo menerima pinangan Jokowi, antara keuntungan dan risiko sama-sama tinggi. Jika duet ini terjadi dan menang, Gerindra tak lagi berada di luar pemerintahan. Memang, tak mudah menjadi partai oposisi, terutama terkait biaya dan kerja konsolidasi. Disini, mungkin Prabowo dan Gerindra akan dapat limpahan amunisi.

    Duet Jokowi-Prabowo, meski 60-70% surveynya rakyat menghendaki, tapi tak otomatis lingkaran istana bersimpati. Bisa jadi malah antipati. Apalagi bagi partai koalisi. Ini sebuah ancaman yang menebar rasa iri. Hadirnya prabowo di kubu Jokowi akan berpotensi merubah formasi. Sejumlah kepentingan terganggu, termasuk manuver cawapres yang selama ini dilakukan sejumlah ketua partai koalisi. Akan kehilangan arah, karena hadirnya Prabowo jadi cawapres Jokowi akan dianggap menghalangi mereka punya ambisi.

    Lebih terpuruk lagi jika Prabowo dikhianati. Ketika ketua Gerindra ini menyatakan siap, lalu di tengah jalan batal karena berbagai alasan, langkah Prabowo akan mati. Konstituen dan pendukungnya bisa lari. Prabowo tak laku, Gerindra terancam bubarkan diri. Nasibnya akan mirip Gatot Nurmantyo. “Merasa diberi harapan”, lalu ditinggalkan seorang diri.

    Seandainya pun duet ini jadi, tidak sedikit pemilih Gerindra akan hengkang, lalu pamit diri. Mereka setia menemani Prabowo sebagai oposisi, tapi tidak sebagai tokoh koalisi. Ternyata, hanya segitu iman dan idealismenya! Bagitulah kira-kira ungkapan mereka yang kecewa Prabowo ikut koalisi. Kelompok ABJ yang semula simpati dipastikan akan menarik diri.

    Kedua, Prabowo maju sendiri. Majunya Prabowo bisa membantu mendongkrak suara partai Gerindra. Mengingat pileg dan pilpres bersamaan di 2019, maka pencapresan Prabowo akan sangat berarti. Terutama bagi eskalasi suara Gerindra. Setidaknya untuk 2019 nanti.

    Tapi, jika Prabowo kalah, tokoh bangsa ini tamat riwayatnya. Gerindra juga ikut terancam nasibnya. Sebab, Prabowo-Gerindra tak bisa dipisahkan. Kekalahan Prabowo akan menghancurkan kharisma kepemimpinan Gerindra. Rakyat semakin apatis. Tidak hanya kepada Prabowo, tapi juga kepada Gerindra.

    Kekalahan Prabowo adalah kekalahan Gerindra untuk jangka panjang. Sebab, kegagalan Prabowo akan berpotensi menjadi “icon kekalahan” dalam sejarah partai Gerindra. Nama Prabowo-Gerindra akan melekat dengan kata “kalah”. Ini warisan dan jejak sejarah yang kurang baik bagi partai Gerindra kedepan.

    Pasca kekalahan, menjadi oposisi kembali, terlalu berat. Masuk koalisi? Makin parah. Prabowo-Gerindra berpotensi punya nasib seperti Wiranto-Hanura dan Surya Paloh-Nasdem. Menjadi partai gurem. Tokohnya tak lagi layak jual dan akhirnya menyerah-kalah.

    Ketiga, Prabowo pasang calon lain. Dengan mencalonkan orang lain, kharisma dan ketokohan Prabowo sebagai negarawan dan bapak bangsa terpelihara. Mirip SBY. Berada di belakang layar, tapi punya pengaruh dan disegani. Menang, nama Prabowo semakin besar dan berkibar. Kalah, tak akan terjatuh. Yang penting pandai membawa diri. Gerindra terselamatkan. Sebab ketokohan Prabowo terjaga dan aman.

    Layaknya SBY, kalahnya AHY di pilgub DKI tak banyak berpengaruh buat presiden keenam dan partai Demokrat. Tapi jika menang, nama SBY dan Demokrat berpotensi gemilang.

    Lalu, siapa yang tepat dimainkan Prabowo di pilpres 2019? Ada sejumlah nama. Diantaranya Anies Rasyid Baswedan, Gatot Nurmantyo, Ahmad Haryawan dan Tuan Guru Bajang. Dari nama-nama itu, sejumlah lembaga survey seperti CSIS, LSI, dan Indo Barometer merekomendasikan Anies Rasyid Baswedan. Potensinya besar, karena ada panggung dan punya banyak momentum. Posisinya sebagai gubernur DKI selalu “ON” untuk nge-“brand”.

    Jika Anies yang diajukan Prabowo, maka Gerindra diuntungkan: pertama, dapat gubernur DKI. Karena sandiaga Uno adalah kader Gerindra. Bisa dipersiapkan jadi calon presiden masa depan. Menjadi gubernur DKI bisa jadi media untuk magang. Kedua, jika Anies menang, maka presiden juga punya Gerindra. Presiden dan gubernur DKI orangnya Gerindra. Layaknya Spanyol yang memenangi Piala Dunia dan Eropa di olahraga sepakbola, Gerindra, Partai asuhan Prabowo Subianto ini akan menguasai DKI dan Indonesia. Posisinya semakin kokoh. Gerindra berpeluang menjadi partai terbesar di negeri ini.

    Membaca tiga alternatif di atas, secara politik, pilihan ketiga paling rasional. Plus minusnya dihitung berdasarkan pertama, hasil survey. Kedua, potensi dan peluang kemenangan. Ketiga, positif-negatifnya bagi masa depan Gerindra.

    Apapun keputusan dan pilihan Prabowo di pilpres 2019 akan berdampak besar terhadap nasib partai berlambang burung garuda ini di masa depan.

    TAGS : Prabow Gerindra Pilpres 2019

    This article is automatically posted by WP-AutoPost Plugin

    Source URL:http://www.jurnas.com/artikel/29301/Membaca-Pilihan-Politik-Prabowo-di-Pilpres-2019/

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleMembaca Pilihan Politik Prabowo di Pilpres 2019
    Next Article Enam Jurnalis Turki Dibui Seumur Hidup
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang (Ilustrasi)

    Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang

    June 5, 2026
    5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW

    5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW

    June 4, 2026
    Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin (Ilustrasi/AI)

    Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin

    June 4, 2026
    Dino Patti Djalal Kritik Prabowo soal Kunjungan Luar Negeri (Instagram)

    Dino Patti Djalal Kritik Prabowo soal Kunjungan Luar Negeri

    June 2, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.