Andalannews.com – Merah Putih film animasi yang banjir hujatan ini menuai kontroversi karena kualitas visual dan cerita yang dinilai kurang memuaskan penonton Indonesia.
Belakangan ini, jagat media sosial dihebohkan dengan kemunculan Merah Putih: One for All, film animasi buatan Indonesia yang justru menuai reaksi negatif dari banyak warganet.
Bukannya dipuji, filmĀ yang disutradarai dan ditulis oleh Endiarto dan Bintang, diproduseri oleh Toto Soegriwo ini malah disebut sebagai merah putih film animasi yang banjir hujatan.
Salah satu penyebabnya adalah kabar bahwa biaya produksinya mencapai Rp6,7 miliar yang dinilai tidak sebanding dengan kualitas visual dan jalan cerita yang ditampilkan.
Film yang disebut-sebut akan mulai tayang di Agustus 2025 ini sebenarnya mengusung misi muli. Yakni menanamkan nilai nasionalisme pada generasi muda lewat kisah animasi.
Sayangnya, niat baik tersebut tenggelam oleh gelombang kritik yang mengarah pada kualitas grafis, desain karakter, hingga dubbing yang dianggap kaku.
Bahkan, sebagian masyarakat di jagat maya membandingkannya dengan standar animasi internasional dan merasa hasilnya terlalu jauh dari harapan.
Salah satu alasan mengapa merah putih film animasi yang banjir hujatan ini viral adalah karena informasi soal anggarannya yang sangat fantastis.
Bagi sebagian besar penonton, jumlah tersebut terbilang besar untuk ukuran film animasi lokal. Hal ini memunculkan pertanyaan kemana saja dana itu dialokasikan?
Selain itu banyak juga yang merasa, dengan nominal tersebut, seharusnya hasil akhir bisa lebih rapi dan memukau secara visual.
Produser dan tim kreatif film ini pun sempat angkat bicara. Di sebuah kesempatan dijelaskan bahwa biaya tersebut digunakan untuk membayar kru, peralatan, proses rendering, musik, hingga promosi.
Namun, penjelasan itu tetap belum mampu meredam kritik dari publik. Di media sosial, komentar pedas terus mengalir, mulai dari meme sindiran hingga ulasan buruk dari penonton yang kecewa setelah melihatnya.
Sementara itu, Sutradara ternama Tanah Air Hanung Bramantyo, yang tidak terlibat dalam produksi film ini, turut memberikan pandangannya.
Dalam sebuah wawancara, Hanung yang dikenal menelurkan karya film terpopuler mengatakan bahwa membuat film animasi memang bukan hal mudah.
Dia juga menegaskan bahwa proses produksi animasi di Indonesia masih menghadapi banyak keterbatasan, baik dari segi SDM maupun teknologi.
Meski begitu, Hanung tidak menutup mata bahwa kualitas akhir memang perlu jadi evaluasi besar jika ingin bersaing dengan pasar global.
Komentar Hanung ini memicu diskusi baru di kalangan netizen. Ada yang setuju, menyebut film ini sebagai langkah awal yang kurang matang.
Namun, ada juga yang menilai kritik publik terlalu keras dan tidak memberikan ruang bagi perkembangan industri animasi lokal.
Kendati begitu, perbincangan ini semakin menguatkan posisi film ini sebagai merah putih film animasi yang banjir hujatan di dunia maya.
Berbagai platform media sosial seperti X (Twitter), Instagram, hingga TikTok dibanjiri konten terkait film garapan Perfiki Kreasindo yang mengusung tema one for all itu.
Ada yang membagikan clip singkat sebagai bukti kualitas animasi yang dinilai kurang halus, ada pula yang membuat video reaksi kocak sebagai bentuk kritik.
Beberapa akun bahkan mengunggah perbandingan adegan film ini dengan animasi buatan studio luar negeri untuk menonjolkan perbedaan kualitas.
Fenomena ini menunjukkan bahwa netizen Indonesia kini semakin kritis dalam menilai sebuah karya, apalagi jika menyangkut penggunaan dana publik atau biaya produksi yang dianggap besar.
Meski demikian, tidak sedikit pula yang menilai bahwa warganet sebaiknya menilai karya lokal secara proporsional dan memberikan masukan yang membangun.
Di balik kontroversi merah putih film animasi yang banjir hujatan ini, ada satu pelajaran penting: industri animasi Indonesia masih memerlukan banyak investasi, pelatihan, dan inovasi.
Walau banyak kritik yang muncul, kehadiran film ini membuktikan bahwa masih ada kreator yang berani mencoba membawa cerita patriotik ke layar lebar dengan format animasi.
Tantangannya adalah bagaimana menyatukan visi kreatif, kemampuan teknis, dan anggaran agar hasil akhirnya bisa memuaskan penonton sekaligus membanggakan di kancah internasional.
Jika pembelajaran dari proyek ini bisa diambil, bukan tidak mungkin di masa depan akan lahir film animasi lokal yang bukan hanya bebas dari hujatan, tapi juga mampu menjadi kebanggaan nasional.
Untuk itu, kolaborasi antara seniman, pemerintah, dan investor swasta menjadi kunci.




