Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Ekonomi»Sudah Babak Belur, Nasib Subak di Bali Bagai “Kerakap Hidup di Batu”
    Ekonomi

    Sudah Babak Belur, Nasib Subak di Bali Bagai “Kerakap Hidup di Batu”

    May 25, 2021No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Sudah Babak Belur, Nasib Subak di Bali Bagai "Kerakap Hidup di Batu" 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Sudah Babak Belur, Nasib Subak di Bali Bagai "Kerakap Hidup di Batu" 2
    Seorang petani memeriksa bibit padinya yang telah tertanam di Renon, Denpasar. (BP/eka)
    Sudah Babak Belur, Nasib Subak di Bali Bagai "Kerakap Hidup di Batu" 3

    DENPASAR, BALIPOST.com – Banyak orang di dunia sudah mengenal Subak. Apalagi setelah Subak ditetapkan sebagai warisan dunia.

    Namun kini kehidupan subak di Bali bagaikan kerakap hidup di batu karang. Hidup segan, matipun tak mau. “Karena sejatinya komponen subak itu ada lima, yaitu petani, sawah, air, pura subak, dan otonomi ke luar dan ke dalam. Tetapi ke lima-nya sudah babak belur,” ujar Guru Besar Pertanian Unud, Prof. Wayan Windia, Senin (24/5).

    Prof. Windia, menjelaskan bahwa terkait komponen tentang petani, tampaknya sudah menjadi rahasia umum. Tidak banyak orang yang suka bertani.

    Apalagi generasi muda yang mindset-nya sudah dikuasai medsos dan handphone. Jumlah petani di Bali saat ini kurang lebih 500.000 orang. Bahkan, sebelum pandemi Covid-19 jumlahnya berkurang rata-rata 2 persen per tahun.

    Namun, saat ini jumlahnya cenderung naik, karena mereka yang terlempar dari sektor pariwisata, terpaksa harus bertani. Kendati demikian, dipastikan pada saat sektor tersier mulai pulih kembali, mereka akan lari lagi dari sektor pertanian.

    Terkait komponen Sawah, dikatakan bahwa berdasarkan Data dari Pemda Bali menunjukkan sawah di Bali berkurang rata-rata 2.800 ha/tahun. Bagitu drastis penurunannya.

    Itu semua adalah karena adanya realitas, bahwa petani tidak bisa hidup dari sektor pertanian. Hal ini tercermin dari indeks Nilai Tukar Petani (NTP) di Bali, kurang dari 100. Itu artinya, petani tidak bisa hidup dari usaha taninya. Sehingga sangat manusiawi kalau mereka tidak suka bertani, kecuali terpaksa.

    Dari kondisi air irigasi untuk pertanian (subak) juga sami mawon. Banyak para petani kekurangan air. Karena sangat banyak diambil untuk PDAM, atau air minum pedesaan.

    Bahkan, Subak sama sekali tidak bisa berkutik terkait hal ini. Apalagi, lembaga sedahan dan sedahan agung sudah mati.

    Sengaja dimatikan oleh Perda Nomor 9 tahun 2012 tentang Subak. “Untuk itu dapat dikatakan bahwa sekarang subak di Bali, bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya. Tidak ada induk senang bagi kelembagaan subak. Bagi aktivitas subak, mungkin banyak OPD yang berkait, tetapi tidak ada yang mengurus subak secara holistik termasuk kelembagaannya,” tandas Prof. Windia.

    Ketua Stispol Wira Bhakti Denpasar ini, mengatakan saat ini hanya Pura Subak Bedugul dan Ulun Sui yang masih tetap eksis bangunannya. Ritualnya masih tetap dijaga oleh petani.

    Bantuan Rp 50 juta per subak per tahun oleh Pemda Bali, mungkin hanya diperuntukkan bagi ritualitas. Hal ini nyaris tidak ada yang bisa dimanafaatkan untuk penguatan dan pemberdayaan subak. Belum termasuk kegiatan ritual di tingkat petani, yang jumlahnya sekitar 15 kali pelaksanaan ritual per musim tanam.

    Sementara itu, terkait komponen hak otonomi subak, dikatakan sejatinya sistem subak diakui eksistensi otonominya dalam Perda Subak, dan bahkan dalam UUD sebagai masyarakat adat. Namun, intervensi yang di alami subak saat ini sangat luar biasa beratnya.

    Kasus di Subak Jatiluwih misalnya. Pekaseh yang kuat ingin mempertahankan kelestarian subak, lalu diintervensi. Bahkan kepala desa ikut campur dalam proses penggantian sang pekaseh.

    Hal yang sepadan terjadi pula di Subak Masceti Gianyar. Hak tradisional subak untuk mengelola kawasan parkir di kawasan Pantai Masceti diambil alih oleh desa adat.

    Bahkan kawasan sawah milik subak akan dipecah-pecah menjadi bagian dari desa adat. Padahal basisnya jelas berbeda.

    Subak basisnya adalah batas hidrologis, dan desa adat/desa dinas basisnya adalah administratif. Sesuai tradisi (dresta kuna) loka Bali, subak dan desa adat masing-masing adalah masyarakat adat yang memiliki otonomi.

    Prof. Windia, menegaskan bahwa untuk membangun sektor pertanian, memerlukaan kelembagan yang tangguh. Kelembagaan yang secara tradisional sudah teruji, adalah lembaga subak.

    Subak terbukti dan teruji tatkala menyukseskan program Bimas dan Inmas pada Era Presiden Soeharto, yang mencapai level swasembada beras pada tahun 1984. “Lalu kenapa subak tidak diperhatikan lagi dalam berbagai program yang berkait dengan pertanian? Misalnya saja program Simantri (sistem pertanian terintegrasi, red) pada era kepemimpinan Gubernur Mangku Pastika. Malahan justru pada saat itu dibentuk lembaga baru yang namanya Gapoktan untuk menangani Simantri. Subak menjadi lembaga yang terpinggirkan,” pungkasnya. (Winatha/balipost)

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleAll New Honda CB 150 R StreetFire “Virtual Launching” di Bali
    Next Article Ditolak Masyarakat, Pembangunan Pabrik Limbah Medis Perlu Disosialisasikan Lagi
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru (Ilustrasi/AI)

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru, Pemerintah Bentuk PT DSI untuk Atur Ekspor

    May 21, 2026
    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat (Instagram/@menkeuri)

    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat

    May 18, 2026
    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter (Ilustrasi/AI)

    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter

    May 5, 2026
    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing (Ilustrasi/Ai)

    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing

    April 29, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • SPMB Jateng 2026 Jalur Prestasi Punya Aturan Baru?
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.