Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Andalan NewsAndalan News
    • Home
    • News
    • International
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Entertainment
    • Lifestyle
    • Automotive
    Andalan NewsAndalan News
    Home»Ekonomi»Terdampak PMK, Harga Babi Hidup Turun
    Ekonomi

    Terdampak PMK, Harga Babi Hidup Turun

    September 2, 2022No Comments2 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp VKontakte Email
    Terdampak PMK, Harga Babi Hidup Turun 1
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
    Terdampak PMK, Harga Babi Hidup Turun 2
    Peternak membersihkan kandang untuk mencegah ternak babi terjangkit PMK. (BP/eka)

    DENPASAR, BALIPOST.com – Mencuatnya kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi, ternyata berdampak pada daging babi. Bukan saja daging babi, namun babi hidup juga terdampak.

    Terlebih, babi hidup juga dilarang untuk dikirim ke luar daerah. Akibatnya, stok babi hidup cukup melimpah.

    Kabid Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kota Denpasar, I Made Ngurah Sugiri, Kamis (1/9) mengatakan, harga daging babi naik setelah adanya African Swine Fever (ASF) beberapa waktu lalu.  Dari Rp 60 ribu per kilogram kini menjadi Rp 80 ribu sampai 85 ribu per kilogram. Harga ini masih tetap sampai sekarang.

    Namun, Sugiri mengatakan harga babi hidup mengalami penurunan. Hal ini menurutnya membuat peternak babi mengalami kerugian.

    Sementara pedagang yang menjual daging babi lebih untung. “Sebetulnya yang menyebabkan harga daging babi stabil karena tekait dengan biaya produksi pemeliharaan babi. Biaya produksi Rp 42 ribu per kilo. Jadi sekarang termasuk rugi peternak. Para pedagang yang menjual daging yang untung,” katanya.

    Sementara itu, terkait dengan wabah PMK, sebanyak 63 sapi terjangkit di Denpasar. Seluruhnya langsung dipotong untuk menghindari terjadinya penularan.

    Sapi-sapi tersebut pun akan mendapatkan kompensasi dari pemerintah senilai Rp 630 juta. Sugiri mengatakan sapi yang dipotong karena terjangkit PMK ada di Banjar Mergaya, Desa Pemecutan Kelod, Denpasar. Sebanyak 63 sapi yang terjangkit tersebut milik 13 orang peternak.

    “Kami sudah mengajukan kompensasi ke pemerintah pusat sebanyak 63 sapi, satu sapi kompensasinya Rp 10 juta,” katanya.

    Sugiri mengatakan, bahwa kompensasi tersebut saat ini masih menunggu pencairan di pusat.  Sebab, dana kompensasi tersebut berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN). (Asmara Putera/balipost)

    Credit: Source link

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr WhatsApp Email
    Previous ArticleKalau Mau Tangkap, Tangkap Saja
    Next Article Geram Sandang Status Tersangka, Nikita Mirzani: Kapan Masuk Pengadilan
    Tim Redaksi
    • X (Twitter)

    Related Posts

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru (Ilustrasi/AI)

    Batu Bara Indonesia Masuk Babak Baru, Pemerintah Bentuk PT DSI untuk Atur Ekspor

    May 21, 2026
    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat (Instagram/@menkeuri)

    Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Sorotan Saat Dolar AS Menguat

    May 18, 2026
    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter (Ilustrasi/AI)

    Harga BBM Pertamina Dex Terbaru Naik Lagi Rp27.900 per Liter

    May 5, 2026
    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing (Ilustrasi/Ai)

    Saham Gudang Garam Melonjak dan Diborong Investor Asing

    April 29, 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    You must be logged in to post a comment.

    Recent News
    • Indonesian Parrot Langka Muncul Lagi Usai Hilang
    • 5 Cara Mengenal Koleksi Kaos Branded Lifework yang Sedang Tren, Awas KW
    • Harga Obat Naik 2026 Mendadak Diungkap Budi Gunadi Sadikin
    • situs 4d
    • toto 4d
    • bandar togel
    • slot pg
    • bandar toto
    • demo slot pg
    • situs toto
    • toto online
    • toto online
    • situs toto online
    • Link Bandar Togel
    • toto online
    • situs jitu

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.