Andalannews.com – Sebanyak 500 ternak di Bandung saat ini mulai mendapat vaksin Penyakit Mulut dan Kuku atau PMK. Hal tersebut dilakukan karena kasus PMK sapi merak lagi dibeberapa daerah.
Jenis wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan berkuku belah seperti sapi, babi, kerbau, hingga domba ini mengalami lonjakan kasus sejak awal bulan Desember 2024 lalu.
Hingga saat ini, total kasus PMK sapi yang telah dilaporkan mencapai 8.483 kasus dengan jumlah kematian 223 kasus, dan pemotongan paksa sebanyak 73 kasus. Data tersebut tersebar di 9 provinsi, termasuk Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Penyakit PMK atau bernama lain apthae epizootica (AE), aphthous fever, dan foot and mouth disease (FMD) ini disebabkan oleh virus RNA, genus Apthovirus yang termasuk dalam keluarga Picornaviridae.
Meskipun virus ini memiliki berbagai serotipe, yakni O, A, C, Southern African Territories (SAT – 1, SAT – 2 dan SAT – 3) dan Asia – 1, kasus di Indonesia diyakini bertipe O.
Virus ini bisa menyebar secara langsung melalui udara. Jika hewan itu ditempatkan berdampingan, kemungkinan tertularnya besar. Bahkan ada kasus di mana penularannya bisa sampai 200 km jaraknya
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Gin Gin Ginanjar menyebut pada 6 Januari sebanyak 370 dosis vaksin PMK telah diberikan pada ternak ditambah hari Selasa 7 Januari sebanyak 130 dosis.
“Total 500 dosis vaksin diberikan kepada 500 ternak sapi di Bandung. Kami belajar dari wabah PMK tahun 2022. Bandung saat itu menjadi wilayah terakhir yang terdampak PMK,” ungkap Gin Gin kepada wartawan.
Pada tahun 2022 lalu, lanjut Gin Gin, kasus PMK sapi terjadi akibat masuknya hewan ternak dari luar kota. Oleh karena itu, tahun ini jajarannya lebih sigap dengan vaksinasi dan pemberian vitamin B kompleks untuk ternak.
“Isu PMK yang kembali muncul di Jawa Timur dan Jawa Tengah menjadi perhatian serius kami. Sebagai langkah antisipasi, pemantauan dan pemeriksaan dilakukan secara intensif di peternakan,” tuturnya.
Selain itu, kata Gin Gin, DKPP juga akan terus melakukan koordinasi yang baik dengan para peternak melalui komunitas yang telah terbentuk. Apalagi mayoritas ternak di Bandung adalah jenis pembesaran.
“PMK dapat menyebabkan efek serius pada sapi, seperti lemas, penurunan nafsu makan, hingga luka pada kuku yang melepuh. Meski tidak menular kepada manusia, sapi yang terjangkit harus segera diisolasi,” ujarnya.
“Kami berharap langkah vaksinasi vaksin PMK ini dapat mempertahankan status Bandung yang telah dinyatakan nol kasus PMK, sekaligus melindungi produktivitas ternak,” ungkap Gin Gin menambahkan.




