Andalannews.com – Pelestarian Bahasa Sunda kini menjadi perhatian banyak kalangan, terutama di tengah arus globalisasi yang begitu kuat.
Di berbagai sudut Jawa Barat, penggunaan bahasa Sunda mulai tergeser oleh bahasa Indonesia bahkan dengan adanya bahasa asing.
Padahal, bahasa ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga bagian penting dari identitas dan warisan budaya masyarakat Sunda yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kita mungkin tak sadar, tapi setiap kali anak-anak muda lebih memilih bicara dalam bahasa lain daripada menggunakan bahasa ibunya, di situlah bahasa Sunda mulai kehilangan tempat.
Pelestarian bahasa Sunda perlu dilakukan secara serius, baik lewat pendidikan formal di sekolah, media digital, hingga kegiatan budaya di tengah masyarakat. Jangan sampai generasi mendatang mengenal bahasa Sunda dari buku sejarah saja.
Menjaga bahasa Sunda berarti juga menjaga nilai-nilai budaya, cara pandang hidup, bahkan kearifan lokal yang selama ini hidup dalam setiap tutur kata.
Pelestarian bahasa Sunda bukan semata soal menjaga kosakata, tapi juga menjaga jati diri orang Sunda itu sendiri. Ini tanggung jawab bersama bukan hanya tugas orang tua atau guru, tapi juga anak muda, pemerintah, dan kita semua.
Wakil Wali Kota Bandung Erwin menekankan pentingnya pelestarian bahasa daerah khususnya bahasa Sunda sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.
Sayangnya, Erwin menilai, kondisi kekinian yang menunjukkan penurunan penutur aktif serta minimnya ketertarikan generasi muda terhadap bahasa daerah.
“Bahasa dan sastra daerah adalah cermin kekayaan budaya yang tidak ternilai. Jika kita kehilangan bahasa, maka kita kehilangan jati diri,” ujar Erwin pada kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun dalam Rangka Implementasi Model Pelindungan Bahasa dan Sastra Daerah di Provinsi Jawa Barat, di Hotel Oakwood, Rabu 21 Mei 2025.
Menurutnya, program revitalisasi ini bukan hanya kegiatan simbolik, melainkan upaya nyata yang melibatkan banyak pihak untuk menjaga keberlangsungan bahasa dan sastra daerah.
“Forum ini sangat strategis karena mempertemukan pemerintah, akademisi, praktisi, komunitas, dan masyarakat umum. Kita perlu duduk bersama, merumuskan langkah konkret yang relevan dan aplikatif,” tambahnya.
Pemerintah Kota Bandung, lanjut Erwin, terus mendorong pelestarian bahasa Sunda melalui kurikulum muatan lokal, kegiatan kesastraan di sekolah dan komunitas, serta pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan.
Namun, ia mengingatkan, pelestarian bahasa daerah bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Diperlukan kerja bersama dan dukungan regulasi yang kuat agar upaya ini bisa berjalan secara berkelanjutan.
“Saya mengajak kita semua untuk terbuka, saling berbagi, dan memberikan pemikiran terbaik. Bahasa daerah adalah warisan, bukan hanya dari nenek moyang kita, tapi juga untuk anak cucu kita,” tutur Erwin.
Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, Herawati menjelaskan, kegiatan ini diikuti oleh berbagai perwakilan, mulai dari akademisi, praktisi bahasa, budayawan, hingga komunitas sastra Sunda.
Selain itu, turut hadir pula perwakilan dari lembaga-lembaga di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
“Kegiatan ini merupakan salah satu program utama dalam rangka revitalisasi bahasa daerah. Kami ingin menjaga keaslian bahasa dan sastra daerah, serta menemukan kembali fungsi dan nilai barunya di tengah masyarakat,” ujar Herawati.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari proses pewarisan bahasa daerah kepada generasi muda agar bahasa ibu tetap hidup dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Indonesia memiliki lebih dari 718 bahasa daerah. Ini adalah sumber kekayaan dan jati diri kita sebagai bangsa. Bahasa daerah harus dirawat, dilestarikan, dan diwariskan,” ujarnya.




